Pagelaran Budaya Di Alun-alun Jadi Langkah Strategis Lestarikan Tradisi Dan Kebhinekaan
Jember kembali menunjukkan komitmennya dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya melalui pelaksanaan Pagelaran Budaya yang berlangsung khidmat dan semarak di Alun-Alun Jember. Acara ini menjadi bagian dari upaya memperkuat identitas kebangsaan, menumbuhkan rasa cinta tanah air, serta mempererat kebinekaan di tengah masyarakat.
Kegiatan diawali dengan Apel Kebangsaan yang diikuti oleh tokoh agama, tokoh masyarakat, kepala OPD, camat, lurah, perangkat desa, dan elemen masyarakat Jember. Apel ini menjadi simbol persatuan dan semangat kebangsaan seluruh elemen masyarakat Jember.
Selanjutnya, dilaksanakan prosesi Sedekah Bumi bertajuk Jember Cinta Pluralisme sebagai wujud rasa syukur kepada Sang Pencipta serta penghormatan terhadap bumi yang telah memberikan kehidupan. Tradisi ini mengandung makna mendalam tentang pentingnya hidup berdampingan dalam keberagaman serta menjaga harmoni antara manusia, alam, dan budaya.
Dalam sambutannya, Bupati Jember menyampaikan komitmen kuat Pemerintah Kabupaten Jember dalam mendukung keberlangsungan kegiatan kebudayaan:
“Pemerintah Kabupaten Jember berkomitmen akan mendukung penuh pagelaran budaya. Walaupun tahun ini belum maksimal, tahun depan kita akan bikin yang lebih besar. Kita harap pagelaran budaya tahun depan bisa menjadi event nasional hingga internasional. Kita tunjukkan bahwa rakyat Jember yang memulai melestarikan kebudayaan Indonesia,” ujar Bupati Jember.
Turut hadir dalam kegiatan ini Ketua DPRD Kabupaten Jember, Bapak Halim, S.Sos., yang bersama Bupati Jember memimpin prosesi pemotongan tumpeng sebagai simbol rasa syukur atas keberlangsungan budaya lokal. Acara dilanjutkan dengan penyerahan simbolik pecut dari Komunitas Cemeti Sodho Lanang kepada Bupati Jember sebagai kenang-kenangan dan simbol keteguhan dalam menjaga nilai-nilai luhur budaya.
Pagelaran budaya ini turut dimeriahkan dengan prosesi Ruwatan, sebuah ritual khas Jember yang bertujuan untuk membersihkan dan melindungi bumi Jember dari marabahaya. Dalam pelaksanaannya, kidung suci Kanjeng Sunan Kalijaga dilantunkan mengiringi prosesi yang sarat makna tersebut.
Salah satu prosesi utama yang dilakukan adalah Ritual Nyapu Kolo, yang menggunakan daun alang-alang dan simbol opo-opo. Simbol ini melambangkan harapan agar tidak ada alangan opo-opo atau rintangan dalam perjalanan masyarakat Jember ke depan. Ritual ini disimbolkan dengan pemukulan alat ke tanah sebagai doa agar Jember selalu dalam kondisi aman dan damai.
Alat khusus yang digunakan dalam prosesi ruwatan ini adalah Wedung Pace, sebuah simbol ketajaman dan kewaspadaan agar masyarakat Jember semakin cerdas dan sigap dalam menjaga warisan budayanya. Rangkaian ritual ditutup dengan pembacaan Surah Al-Fatihah dan Doa Pangrukat Bumi Jember, yang dipanjatkan sebagai bentuk permohonan keselamatan dan keberkahan bagi seluruh masyarakat.
Ketua Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Kabupaten Jember, Bapak Sujatmiko Solehadi, juga turut hadir dan memberikan apresiasi atas terselenggaranya acara ini sebagai langkah konkret dalam membangun kebersamaan dan memperkuat identitas daerah.
Pagelaran budaya ini tidak hanya menjadi ajang pelestarian budaya, tetapi juga menjadi ruang edukasi dan refleksi atas nilai-nilai kebangsaan, spiritualitas, dan kearifan lokal. Pemerintah Kabupaten Jember berharap kegiatan ini dapat menjadi agenda tahunan yang lebih luas jangkauannya dan berkontribusi dalam diplomasi budaya di kancah nasional maupun internasional.